Apa Itu Darah Berdosa dan Asal-Usulnya? Membongkar Kebohongan di Balik Stigma Klan Shi
Klan Shi merupakan salah satu klan yang berperang menjaga perbatasan Sembilan Langit dan Sepuluh Bumi dari serangan bangsa Asing di masa lalu. Namun, bagaimana bisa keluarga pahlawan yang telah berkorban segalanya justru dicap sebagai pengkhianat?
Itulah ironi pahit yang menimpa keturunan Tujuh Raja Perbatasan, terutama Klan Shi, yang dilekati stigma "Darah Berdosa" (atau keturunan darah berdosa) selama ribuan tahun. Tapi, apa sebenarnya Darah Berdosa itu, dan siapa dalang di balik fitnah keji ini?
Stigma ini bukanlah kutukan biologis, melainkan sebuah kebohongan politik terstruktur yang dirancang untuk menghancurkan garis keturunan para penyelamat dunia.
Pada serial donghua Perfect World episode 255 terlihat bagaimana klan Shi mendapatkan julukan ini. Namun apa benar leluhur klan Shi adalah penghianat? Nah di postingan kali ini Saya akan menjelaskan secara detail apa itu darah berdosa dan asal-usulnya.
Asal-Usul: Pengorbanan yang Terdistorsi Kebohongan
Untuk memahami Darah Berdosa, kita harus mundur ke masa Perang Era Immortal, saat Sembilan Langit Sepuluh Bumi berada di ambang kehancuran melawan 异域 (Alien Realm).
Di garis depan, berdiri kokoh Kota Primordial yang legendaris. Di sanalah Tujuh Raja Perbatasan, termasuk Leluhur Klan Shi, Klan Huo, dan lainnya, bertempur dengan gagah berani.
Di tengah keputusasaan perang, dua peristiwa besar terjadi yang kemudian menjadi bumerang bagi keturunan mereka:
Pemenggalan Para Kultivator yang Terkontaminasi: Untuk bertahan, beberapa kultivator puncak dari pihak mereka sendiri mulai terkontaminasi oleh "kegelapan" (黑暗不详) yang dibawa oleh musuh. Kontaminasi ini akan mengubah mereka menjadi monster tak sadar yang akan membantai rekan sendiri. Para raja, yang saat itu hanya berkultivasi hingga level Immortal King (仙王), tak memiliki kemampuan untuk menyelamatkan mereka. Satu-satunya cara adalah memenggal kepala mereka sebelum mereka sepenuhnya berubah. Tindakan ini dilakukan untuk menyelamatkan garis pertahanan, namun juga untuk menghormati wasiat terakhir para pejuang yang lebih memilih mati dengan hormat daripada menjadi boneka musuh.
Membuka Pintu untuk Mata-mata: Di saat yang sama, dua Immortal King lainnya, Raja Samsara (六道轮回仙王) dan Raja Tanpa Akhir (无终仙王), menyusun rencana putus asa. Mereka memerintahkan Klan Gu (蛄族) yang memiliki kemampuan khusus untuk berpura-pura membelot ke kubu musuh sebagai mata-mata. Agar rencana ini berhasil, Tujuh Raja Perbatasan dengan berat hati membuka gerbang pertahanan, memfasilitasi "kebocoran" yang direncanakan ini.
Kedua tindakan inilah memenggal kepala kultivator sendiri dan membuka gerbang untuk "musuh" yang menjadi senjata makan tuan.
Dalang di Balik Stigma: Empat Dewa dan Klan Feng
Di saat para pahlawan ini memilih bertahan mati-matian di Kota Primordial, memutuskan semua jalur mundur untuk menghadang gelombang kegelapan, ada sekelompok pengecut yang justru melarikan diri dari medan perang. Mereka adalah empat Dewa yang tersisa dan Klan Feng.
Alih-alih merasa malu, kelompok ini justru merasa terancam oleh kebesaran nama Tujuh Raja. Untuk menutupi kepengecutan dan pengkhianatan mereka sendiri, mereka menyusun skenario keji. Mereka memutarbalikkan fakta sejarah:
- Tindakan pemenggalan para kultivator yang terkontaminasi diputarbalikkan menjadi "pembunuhan brutal terhadap pahlawan sendiri."
- Membuka gerbang untuk misi mata-mata diputarbalikkan menjadi "berkomplot dengan musuh dan membuka gerbang bagi invasi."
Mereka kemudian menyebarkan "memori kristal" palsu dan narasi di seluruh dunia, mencap para keturunan Tujuh Raja sebagai "Keturunan Darah Berdosa" (罪血后代). Tanda kebanggaan di dahi para keturunan yang merupakan simbol perjanjian dan penguatan garis keturunan dari para leluhur dihujat sebagai "karakter dosa" (罪字).
Dampak Kebohongan: Pemburuan dan Penindasan
Akibatnya, keturunan pahlawan ini hidup dalam neraka di dunia sendiri. Klan Shi dihancurkan dalam semalam oleh aliansi sekte-sekte yang didirikan oleh para Dewa Palsu, seperti Paviliun Dewa (仙殿), Lembah Pedang (剑谷), dan Gerbang Naga Iblis (妖龙道门).
Di kota perbatasan, setiap anggota Klan Shi yang mencapai level Dewa Langsung (天神) akan segera dikirim ke medan perang paling berbahaya di luar tembok, secara efektif dijadikan "umpan meriam." Hanya yang lemah dan tua yang tersisa, hidup dalam penderitaan.
Bahkan talenta jenius seperti Shi Hao dan Shi Yi, yang dengan gagah berani membunuh musuh di medan perang, tetap dipandang hina, dicurigai, dan bahkan nyaris dijadikan tumbal untuk menenangkan musuh. Stigma "Darah Berdosa" telah mengakar kuat, membuat generasi mendatang buta akan kebenaran.
Api yang Tak Pernah Padam
"Darah Berdosa" bukanlah tentang darah yang kotor, melainkan tentang pengorbanan terbesar yang dibalas dengan pengkhianatan terkeji. Ini adalah kisah tentang bagaimana kepahlawanan sejati bisa diputarbalikkan menjadi "dosa" oleh mereka yang iri dan pengecut.
Kebenaran baru terungkap ribuan tahun kemudian, saat Shi Hao mencapai level kehormatan dan kekuatan yang cukup untuk menantang narasi palsu ini. Dengan tangannya sendiri, ia membasmi para pewaris kebohongan, menghancurkan sekte-sekte palsu, dan memulihkan nama baik leluhurnya.
Darah Berdosa, pada akhirnya, hanyalah mahkota duri yang dikenakan pada para pahlawan sejati oleh para pengkhianat. Dan sejarah, meski butuh waktu lama, pada akhirnya akan menemukan jalannya untuk menulis ulang kebenaran.