Aedes Aegypti, nyamuk penyebar virus Dengue

02 September

Tidak lama lagi kita akan memasuki musim penghujan. Di musim itu aktivitas nyamuk meningkat drastis. Para nyamuk betina mulai menyebar mencari pasokan nutrisi berupa darah guna bekal berkembang biak nantinya.

Saat musim bertelur, nyamuk betina mencari genangan air yang tertampung pada kolam, kaleng, atau ban luar bekas untuk meletakkan telur-telur mereka. Selang beberapa hari telur tersebut akan menetas menjadi larva yang kemudian berubah menjadi nyamuk dewasa.

Yang luar biasa, satu ekor nyamuk betina mampu menghasil sampai ratusan telur. Bayangkan jika tidak ada kontrol alami berupa hewan pemakan nyamuk, manusia akan kewalahan menghadapi invasi hewan penghisap darah ini.

Saat kita digigit nyamuk, bukanlah darah yang dihisap atau rasa gatal yang diakibatkan yang perlu kita khawatirkan, tetapi kemungkinan kita tertular oleh virus-virus yang dibawa oleh nyamuk-nyamuk tersebut. Nyamuk menjadi carrier atau pembawa berbagai jenis virus berbahaya yang bisa ditularkan kepada hewan atau manusia seperti virus Dengue penyebab demam berdarah, virus Malaria, virus Chikungunya, virus Flavivirus penyebab demam kuning. Tidak hanya virus, tetapi nyamuk juga bisa menyebarkan beberapa jenis cacing parasit seperti cacing Filiaris penyebab penyakit kaki gajah.

Aedes Aegypti

Salah satu jenis nyamuk yang cukup sering ditemukan di Indonesia adalah Aedes Aegypti. Nyamuk ini merupakan faktor utama penyebar virus Dengue yang menyebabkan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Selain Aedes Aegypti, virus Dengue juga disebarkan oleh nyamuk Aedes Albopictus sebagai penyebab sekunder.

Kedua nyamuk ini terlihat mirip dan sangat mudah dikenali melalui tampilan fisik serta waktu beroperasinya. Nyamuk Aedes memiliki garis-garis putih padan badannya serta beroperasi pada waktu pagi sampai sore hari. Berbeda dengan nyamuk biasa yang beroperasi pada malam hari. Selain itu Aedes berkembang biak dalam air jernih yang ditampung, baik di dalam atau di luar rumah.

"Aedes Aegypti", Sumber: Wikimedia

✱ Demam Berdarah
Demam berdarah merupakan penyakit yang tergolong pandemi dan sering ditemukan di kawasan beriklim tropis dan subtropis. Di Indonesia sendiri dari bulan Januari sampai Juli lalu seperti yang di laporkan CNN Indonesia, terdapat lebih dari 71 ribu kasus demam berdarah dengan angka kematian mendekati 500 kasus.

✱ Gejala demam berdarah
Jika seseorang telah tergigit oleh salah satu nyamuk yang membawa virus Dengue, orang tersebut dipastikan akan terinfeksi virus Dengue. Apabila orang tersebut sedang memiliki daya tahan tubuh yang rendah, maka kemungkinan terinfeksi dan terserang virus tersebut semakin besar.

Setelah terinfeksi, virus bersirkulasi dalam darah orang yang terinfeksi selama 2-7 hari, kira-kira pada waktu yang sama ketika orang tersebut mengalami demam. Penderita yang sudah terjangkit virus Dengue dapat menularkan melalui nyamuk Aedes setelah gejala pertama muncul. Bisa dibilang manusia yang terinfeksi menjadi pembawa dan pengganda utama virus, yang berfungsi sebagai sumber virus bagi nyamuk yang tidak terinfeksi.

Berikut gejala-gejala demam berdarah yang harus Anda ketahui.

  1. Demam tinggi selama beberapa hari.
  2. Nyeri di bagian perut dan sekitar ulu hati. 
  3. Sakit kepala
  4. Nyeri di bagian belakang bola mata. 
  5. Nyeri otot dan persendirian. 
  6. Mual, muntah atau diare. 
  7. Bintik-bintik merah pada kulit. 
  8. Mimisan, gusi berdarah, dan muntah darah (dalam kondisi parah)

✱ Penanganan demam berdarah
Jika anda atau atau kerabat anda mengalami gejala-gejala penyakit demam berdarah, sebaiknya cepat periksakan diri anda ke dokter terdekat untuk mendapatkan perawatan.

Untuk informasi lebih lengkap mengenai demam berdarah, silahkan baca artikel "Demam Berdarah" dari Halodoc. Halodoc merupakan sebuah platform yang menyediakan berbagai informasi dan layanan seperti artikel kesehatan, informasi obat dan vitamin, layanan tanya dokter, daftar rumah sakit dan sebagainya. Selain tersedia dalam bentuk web, halodoc juga tersedia dalam bentuk aplikasi android yang bisa anda unduh melalui playstore.

Pengendalian Nyamuk Aedes Aegypti

Pengendalian nyamuk Aedes Aegypti umumnya dilakukan dengan menggunakan insektisida. Dalam skala kejadian luar biasa terkait wabah DBD, pemerintah daerah akan melakukan fogging pada area yang diduga memiliki konsentrasi nyamuk dewasa yang tinggi. Penggunaan insektisida masih menjadi pilihan utama untuk membasmi nyamuk Aedes Aegypti ini, namun penggunaan secara terus menerus dikhawatirkan mambuat nyamuk malah resisten.

Anda juga bisa membantu mengendalikan perkembang-biakan nyamuk Aedes Agypti ini dengan cara menjaga lingkungan di sekitar kita dan menerapkan sistem berikut.

1. Menguras.
Jika anda memiliki bak penampungan air yang tidak digunakan, sebaiknya dikuras kering saja untuk menghidari nyamuk bertelur pada bak tersebut.

2. Menutup
Tempat penyimpanan air sebaiknya ditutup rapat agar nyamuk tidak bisa masuk dan meletakkan telurnya

3. Mendaur Ulang
Limbah plastik seperti gelas plastik, kaleng bisa menampung air saat musim penghujan. Limbah tersebut umumnya bisa didaur ulang. Anda bisa membuat kerajinan dari limbah tersebut atau menjualnya ke pengepul limbah plastik.

4. Membunuh larva/jentik nyamuk
Untuk mematikan larva nyamuk, anda bisa menggunakan larvasida yang bisa didapatkan secara gratis di puskesmas terdekat.