Sayuran ini ternyata hasil rekayasa manusia

- Diupdate 02 Agustus

Mungkin banyak dari kalian yang belum tahu bahwa beberapa jenis sayuran yang sering kalian makan adalah hasil rekayasa manusia? Silahkan disimak daftarnya berikut ini.

1. Kubis-kubisan

Sayuran ini ternyata hasil rekayasa manusia

Kol, brokoli, kembang kol atau semua sayuran kubis-kubisan lainnya ternyata berasal dari tanaman yang sama yaitu Brassica Oleracea atau kubis liar/sesawi liar. Tanaman ini sampai sekarang masih ada loh.

Brassica Oleracea atau kubis liar/sesawi liar
Sesawi Liar, oleh Kurt Kulac, Wikimedia, Lisensi CC BY-SA 2.5

Sesawi liar sudah dikenal sejak 2,5 ribu tahun yang lalu. Tanaman ini banyak tumbuh di area pegunungan di beberapa tempat di Eropa dan Mediterania. Rasanya segar namun berbeda tergantung di lokasi mana tanaman ini tumbuh. Orang Romawi dan Yunani kuno kemudian mulai melakukan pengembangbiakan secara selektif terhadap tumbuhan liar ini. Mereka memilih bibit dari sesawi liar yang memiliki daun yang lebih lebar sampai akhirnya menghasilkan Kale dan Collard Hijau.

Memasuki abad ke 17 beberapa orang melakukan pembiakan selektif pada sesawi liar yang memilki tunas daun yang besar. Pembiakan ini akhirnya menghasilkan sayuran baru yang tertutup oleh banyak daun yang saat ini kita kenal sebagai kubis atau kol.

Pembiakan selektif berlanjut untuk sesawi liar yang memiliki batang besar yang pada akhirnya menghasilkan sayuran Kohlrabi. Sesawi liar yang memiliki kepala kecil menjadi sayuran kubis brussel, sedangkan sesawi liar yang memiliki bunga besar menjadi sayuran brokoli dan kembang kol.

Pada abad ke 20, rekayasa genetik dilakukan oleh perusahaan Sakata Seed dari Yokohama Jepang. Peneliti di sana melakukan persilangan antara brokoli dengan kailan untuk menghasilkan tanaman sayuran baru bernama brokolini.

2. kacang tanah

kacang tanah

Siapa sangka bahwa kacang tanah yang sering kita makan adalah produk hibrida persilangan antara dunia spesies kacang-kacangan tanah liar berbeda. Kedua spesies kacang-kacangan tanah liar itu adalah Arachis ipaensis dan Arachis duranensis. Kedua spesies ini terpisah cukup jauh. Satunya tumbuh di lembah Andean antara Bolivia dan Argentina sedangkan yang satunya lagi tumbuh hanya di Bolivia.

Peneliti dari Universitas Georgia bekerjasama dengan International Peanut Genome Initiative (IPGI) melakukan pengujian DNA terhadap spesies kacang tanah liar yang ditemukan pada tahun 1970. Hasilnya menunjukkan kesamaan antara spesies kacang liar dan kacang tanah modern dengan persentase mencapai 99.96%.

Arachis ipaensis (kiri) and A. duranensis (kanan). Sumber: U.S. Department of Agriculture.

Karena berasal dari dua spesies yang berbeda maka kacang tanah memiliki dua genome yang berbeda. Subgenome A yang berasal dari spesies Arachis duranensis dan subgenom B yang berasal dari spesies Arachis ipaensis. Lalu bagaimana bisa terjadi persilangan antara kedua tanaman liar ini padahal keduanya terpisah sampai ratusan mil jauhnya?

Keduanya ternyata bertemu karena campur tangan manusia. Orang-orang yang berasal dari lembah Andean bermigrasi ke Bolivia sambil membawa bibit Arachis duranensis. Merekaa kemudian menanam bibit ini berbarengan dengan spesies Arachis Ipaensis sampai terjadi persilangan antara keduanya menghasilkan spesies kacang tanah yang kita kenal saat ini.

Apakah hal tersebut termasuk hasil rekayasa manusia? Ya, baik sadar atau tidak sadar, tindakan manusia menanam dua spesies yang berbeda sampai menghasilkan varian baru bisa dibilang adalah rekayasa manusia.

3. Kacang Almond

Kacang Almond

Almond atau di Indonesia dikenal dengan nama Budam, Almon, Amandel merupakan tumbuhan yang berasal dari keluarga Rosaceae dan masih sekeluarga dengan persik. Buah dari tumbuhan inilah yang disebut dengan nama kacang almond.

Almond diyakini sebagai hasil hasil pembiakan selektif dari almond liar yang terkenal pahit dan beracun. Almond liar tersebut adalah Amygdalus fenzliana karena memiliki kesamaan daun, buah, biji denngan almond modern.

Sampai saat ini ilmuan belum mengetahui secara pasti bagaimana orang-orang terdahulu memibiakkan almond yang bijinya pahit dan beracun ini menjadi almond yang menghasilkan biji memiliki rasa yang manis dan sempurna.

4. Wortel

Wortel

Sayuran yang sering digambarkan sebgai makanan favorit kelinci ini sangat populer di Indonesia. Sayuran berwarna oranye ini selalu menjadi salah satu bahan menghiasi setiap makanan yang dijual di warung-warung. Siapan sangka ternyata wortel yang saat ini sering kita lihat adalah hasil dari rekayasa manusia.

Para ilmuan meyakini bahwa wortel merupakan hasil persilangan. Cikal bakal wortel yang bisa dimakan muncul dalam sejarah Persia pada abad ke 10. Beberapa catatan menunjukkan bahwa sayuran ini berwarna putih dan ada juga yang berwarna ungu. Sayuran ini memiliki banyak akar-akar kecil dengan ukuran yang berbeda. Keberadaan akar-akar kecil ini menunjukkan perbedaan yang sangat besar dengan wortel modern.

Orang-orang Persia kemudian melakukan pembiakan selektif dengan hanya menanam wortel yang memiliki akar yang besar dan pada akhirnya sampai ke wortel yang hanya memiliki satu akar yang besar saja. Proses pembiakan terus berlanjut dan wortel yang dihasilkan mengalami mutasi yang menyebabkan perubahan warna dari putih atau ungu menjadi kuning. Berikutnya wortel kuning ini yang kemudian oleh manusia dilakukan persilangan dan akhirnya menghasilkan wortel berwarna oranye yang sering kita temui.

5. Jagung

jagung

Jagung (Zea Mays)  atau Maize yang sering kita lihat saat ini ternya adalah buat hasil rekayasa manusia. Jagung berasal dari negara Amerika Selatan, tepatnya Meksiko. Cikal dari jagung ini dikenal sebagai Teosinte, sejenis rerumputan yang tidak terlalu tinggi. Tongkolnya pun sangat jauh berbeda dengan jagung modern. Bijinya kecil dan tidak sebanyak  jagung mdern.

Teosinte dan jagung
Sumber: https://www.pnas.org/content/116/12/5643/tab-figures-data

Ilmuan meyakini bahwa Teosinte ini sudah dibudidayakan dan dijadikan salah satu bahan makanan oleh suku Indian setidaknya sejak 10000 tahun yang lalu. Tanaman ini kemudian menyebar sebagai mana orang Indian mulai bermigrasi ke berbagai wilayah di benua Amerika.

Pembiakan selektif dari teosinte yang dilakukan secara terus menerus pada akhirnya menghasilkan Jagung yang kita kenal sekarang. Pada saat Cristhopher Columbus dan penjelajah lainnya melakukan kontak dengan suku indian, mereka diajarkan cara menanam jagung.

Jagung kemudian diperkenalkan ke Eropa dan pada akhirnya menyebar ke seluruh dunia. Saat ini juga banyak dilakukan persilangan anatar bibit unggul untuk menghasilkan varian-varian jagung yang berkualitas.

Tampilkan Komentar Sembunyikan Komentar 1

1 Komentar

Batalkan