Power Scaling Realistis dalam Donghua A Record of Mortal's Journey to Immortality

Han Li, karakter utama A Record of a Mortal’s Journey to Immortality

Dalam lanskap donghua xianxia yang dipenuhi protagonis dengan kemampuan luar biasa, A Record of Mortal's Journey to Immortality mengambil pendekatan berbeda terhadap sistem kekuatan karakternya. Serial adaptasi dari novel Wang Yu ini menawarkan perspektif yang jarang ditemukan dalam genre kultivasi: power scaling yang mengikuti logika internal konsisten.

MC OP Jadi Standar Umum

Sebagian besar cerita xianxia membangun protagonis mereka sebagai individu istimewa dengan kemampuan tempur melampaui tingkat kultivasi mereka. Pola ini hampir menjadi formula standar dalam genre ini.

Ambil contoh karya-karya Chen Dong. Shi Hao dalam Perfect World atau Ye Fan memiliki battle prowess yang memungkinkan mereka bertarung melawan musuh dua ranah di atas level mereka. Shi Hao pada ranah Void Dao sanggup mengalahkan kultivator Self Severing, bahkan berani menantang ranah Self Release.

Contoh lain datang dari Xiao Yan dalam Battle Through the Heavens. Ketika masih berada di tingkat Dou Huang, ia mampu bertempur melawan kultivator Dou Zong—perbedaan tingkat yang seharusnya menciptakan jurang kekuatan tak terjembatani.

Pendekatan ini memang memiliki daya tarik tersendiri. Pembaca dan penonton menikmati sensasi melihat underdog mengalahkan lawan yang lebih kuat. Protagonis memang dirancang sebagai sosok spesial, dan banyak penggemar xianxia menerima konvensi ini sebagai bagian dari genre.

Namun konsekuensi dari pendekatan ini adalah sistem power scaling sering kehilangan makna. Jika perbedaan ranah kultivasi bisa diabaikan oleh protagonis kapan saja sesuai kebutuhan plot, hierarki kekuatan dalam cerita menjadi dekoratif belaka.

Pendekatan Power Scaling Realistis A Record of Mortal's Journey to Immortality

A Record of Mortal's Journey to Immortality memiliki jalan yang sedikit berbeda dari umum. Dalam serial ini, tingkatan ranah kultivasi bukan sekadar label, setiap tingkat membawa perbedaan kekuatan substantif.

Kultivator Core Formation tidak akan menantang kultivator Nascent Soul. Bahkan dalam ranah yang sama, perbedaan tahap menciptakan batasan jelas. Seorang kultivator Tahap Awal Nascent Soul akan berpikir berkali-kali sebelum menghadapi Tahap Menengah Nascent Soul, apalagi Tahap Akhir. Kekalahan dalam pertarungan seperti ini hampir pasti berakhir dengan kematian.

Pengecualian hanya berlaku ketika kultivator memiliki teknik atau artefak tingkat tinggi yang bisa menyeimbangkan perbedaan kekuatan. Namun bahkan dalam kasus ini, keuntungan tersebut terbatas—kultivator Tahap Awal mungkin bisa bertarung melawan Tahap Menengah, tetapi tetap dalam parameter yang masuk akal.

Han Li, protagonis cerita ini, menunjukkan prinsip ini sepanjang perjalanannya. Ia memang kuat ketika berada di Tahap Awal Nascent Soul, ia menjadi petarung dominan melawan kultivator setingkat. Namun dominasi ini memiliki batas jelas.

Ketika berhadapan dengan kultivator Tahap Menengah Nascent Soul, Han Li tidak mencoba pertarungan langsung. Ia mengandalkan kombinasi teknik dan artefak untuk bertahan, lalu menggunakan Sayap Thunderstorm untuk mundur dari pertempuran. Strategi ini bukan tanda kelemahan, melainkan pengakuan realistis terhadap batasan kemampuannya.

Situasi menjadi lebih tegas ketika menghadapi kultivator Tahap Akhir Nascent Soul. Dalam kondisi ini, Han Li sepenuhnya fokus pada pelarian. Sayap Thunderstorm dan teknik Blood Evasion menjadi andalannya bukan untuk menang, tetapi untuk selamat.

Perubahan baru terjadi setelah ia berhasil memurnikan pedang bambu Cloudswarm-nya. Artefak yang ditingkatkan ini memberinya kepercayaan diri menghadapi kultivator Tahap Menengah Nascent Soul dalam pertarungan sebenarnya.

Namun untuk menghadapi Tahap Akhir Nascent Soul dengan peluang menang, Han Li membutuhkan lebih dari sekadar artefak berkualitas. Ia harus menguasai Formasi Pedang Emas, teknik tingkat tinggi yang membutuhkan persiapan dan pemahaman mendalam. Baru setelah mencapai penguasaan atas teknik ini, ia memiliki modal menghadapi kultivator tingkat tertinggi dalam ranah yang sama.

Dampak pada Narasi

Sistem power scaling yang konsisten ini mempengaruhi bagaimana cerita berkembang. Konflik tidak bisa diselesaikan semata-mata melalui kekuatan Han Li. Ia harus menggunakan kecerdasan, diplomasi, atau strategi pelarian ketika menghadapi musuh yang terlalu kuat.

Hal ini membuat dunia kultivasi dalam serial terasa lebih berbahaya dan nyata. Ancaman dari kultivator tingkat tinggi benar-benar menakutkan karena Han Li tidak memiliki plot armor yang memungkinkannya mengalahkan siapa saja. Ia harus tumbuh secara organik, mengambil risiko terhitung, dan kadang-kadang mengakui bahwa beberapa pertempuran tidak bisa dimenangkan.

Struktur ini juga membuat pencapaian Han Li terasa lebih memuaskan. Ketika ia akhirnya mencapai tingkat kultivasi baru atau menguasai teknik kuat, kita memahami signifikansi peningkatan tersebut. Kita telah melihat bagaimana keterbatasannya di tingkat sebelumnya, sehingga kemajuannya membawa dampak narratif yang lebih besar.

Penutup

A Record of Mortal's Journey to Immortality membuktikan bahwa protagonis xianxia tidak harus mendobrak batasan ranah kultivasi untuk menciptakan cerita menarik. Han Li menjadi karakter yang menarik justru karena ia bekerja dalam parameter sistem yang ditetapkan, bukan melanggarnya.

Pendekatan ini mungkin tidak memberikan kepuasan instan dari melihat protagonis mengalahkan musuh yang jauh lebih kuat. Namun ia menawarkan sesuatu yang lebih bertahan lama: dunia dengan aturan konsisten, progresi karakter yang terasa diraih, dan tension yang muncul dari batasan nyata.

Dalam genre yang sering mengabaikan logika internal demi spektakel, pilihan A Record of Mortal's Journey to Immortality untuk mempertahankan power scaling yang masuk akal menjadikannya menonjol. Han Li mungkin bukan protagonis yang bisa mengalahkan siapa saja, tetapi perjalanannya menjadi lebih kredibel karenanya.

edit
Posting Komentar Sembunyikan Komentar